Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis studi yang menyimpulkan bahwa pemulihan berkelanjutan pasca konflik horizontal di Sumba Timur memerlukan pendekatan ekonomi berkeadilan, bukan sekadar rekonsiliasi simbolis. Akar konflik di wilayah tersebut sering terkait dengan persaingan atas sumber daya alam, akses lahan, dan ketimpangan ekonomi yang memperuncing garis pemisah antar-kelompok masyarakat. Dinamika pascakonflik menunjukkan bahwa tanpa penanganan akar masalah ekonomi, perdamaian yang telah dibangun rentan runtuh dan konflik dapat muncul kembali dalam bentuk baru. Studi ini menganalisis bahwa program rekonsiliasi yang hanya fokus pada aspek sosial-kultural tanpa disertai dengan pembukaan akses ekonomi dan kesempatan yang setara bagi semua kelompok korban konflik akan gagal menciptakan stabilitas jangka panjang. Solusi yang diusulkan adalah integrasi antara program bantuan ekonomi produktif, pelatihan keterampilan, dan penguatan kelembagaan koperasi lintas kelompok ke dalam kerangka rekonsiliasi. Rekomendasi kebijakan mencakup alokasi anggaran khusus dari Dana Otonomi Khusus atau dana desa untuk program ekonomi inklusif pascakonflik dan pembentukan forum multipihak yang mengawal distribusi manfaat pembangunan secara adil.