Seluruh jenazah korban bentrokan di Adonara Timur, termasuk satu yang sempat terhalang massa, telah berhasil dievakuasi ke rumah sakit setelah negosiasi yang melibatkan Forkopimda dan tokoh masyarakat. Evakuasi jenazah merupakan langkah kritis pertama dalam meredam emosi dan mencegah provokasi lebih lanjut pasca-konflik berdarah. Meskipun situasi dilaporkan mulai berangsur pulih dengan massa kembali ke rumah masing-masing, puluhan aparat TNI-Polri masih berjaga ketat di lokasi, mengindikasikan bahwa ketegangan masih tinggi dan potensi aksi balasan sangat nyata. Dinamika pasca-konflik menunjukkan bahwa meski eskalasi fisik dapat dihentikan, proses pemulihan kepercayaan dan rekonsiliasi akan panjang. Keberhasilan evakuasi jenazah melalui negosiasi menunjukkan bahwa otoritas adat dan tokoh masyarakat masih memiliki pengaruh yang dapat dimanfaatkan untuk proses perdamaian selanjutnya. Namun, keberadaan pasukan Brimob tambahan yang dikerahkan menandakan aparat mengantisipasi kemungkinan konflik susulan, sehingga pendekatan keamanan masih dominan dalam tahap ini. Untuk transisi dari stabilisasi keamanan menuju rekonsiliasi berkelanjutan, opsi penyelesaian yang harus segera dikerjakan meliputi: (1) memfasilitasi proses serah terima jenazah yang bermartabat dan sesuai adat, dengan pendampingan psikososial untuk keluarga korban; (2) segera membentuk tim mediasi khusus yang terdiri dari unsur Forkopimda, tokoh adat yang dihormati kedua belah pihak, dan lembaga independen (seperti Komnas HAM atau LSM lokal) untuk memulai dialog; serta (3) menyusun peta jalan perdamaian yang jelas dengan tahapan yang disepakati bersama, dimulai dari gencatan senjata/perlengkapan berbahaya, hingga penyelesaian sengketa tanah yang menjadi pemicu.