Konflik horizontal yang melanda Kota Ambon meninggalkan jejak trauma kolektif yang jauh lebih dalam daripada kerusakan fisik, dengan dampak paling nyata pada fragmentasi hubungan sosial di kalangan pemuda. Analisis Pilar-Resolusi mengidentifikasi bahwa segregasi spasial dan polarisasi identitas telah membentuk lingkungan pascakonflik yang menghambat interaksi lintas komunitas, mengancam kohesi sosial jangka panjang serta stabilitas ekonomi kota. Kondisi ini menciptakan lingkaran tantangan yang saling terkait: terbatasnya ruang interaksi memperparah trauma historis, sementara trauma tersebut pada gilirannya membatasi partisipasi pemuda dalam aktivitas pembangunan bersama.
Mengurai Hambatan Kohesi Sosial: Tiga Faktor Kritis di Kalangan Pemuda Ambon
Untuk merancang intervensi yang tepat sasaran, perlu dilakukan dekonstruksi sistematis terhadap hambatan kohesi sosial pemuda Ambon pascakonflik. Berdasarkan investigasi lapangan dan kajian literatur, tiga faktor utama teridentifikasi sebagai penghalang utama rekonsiliasi:
- Trauma Historis dan Memori Kolektif: Memori konflik telah membentuk pola penghindaran psikologis yang mengkristalkan identitas kelompok eksklusif, membatasi inisiatif kontak positif antar pemuda dari latar belakang berbeda.
- Defisit Infrastruktur Sosial Inklusif: Kota menghadapi keterbatasan ruang fisik dan program yang secara khusus dirancang untuk mendorong interaksi konstruktif, kolaborasi, dan pembentukan jaringan lintas komunitas di kalangan generasi muda.
- Absensi Proyek dan Tujuan Bersama (Superordinate Goal): Tidak adanya aktivitas atau inisiatif kolektif yang dapat mengalihkan fokus pemuda dari perbedaan masa lalu menuju pencapaian dan kerja sama untuk masa depan bersama.
Dalam kondisi tersebut, muncul peluang strategis untuk intervensi berbasis aset lokal. Sektor ekonomi kreatif—dengan ekspresinya dalam bidang musik, kuliner, kriya, dan produksi konten digital—mulai menunjukkan potensi sebagai ruang netral dan pemersatu. Sektor ini menawarkan nilai intrinsik berupa kreativitas dan ekonomi, yang dapat mengatasi batas-batas identitas lama.
Rekonstruksi Kohesi Sosial: Rekomendasi Kebijakan Berbasis Ekonomi Kreatif
Berdasarkan analisis konflik dan potensi sektor ekonomi kreatif yang teridentifikasi, Pilar-Resolusi menawarkan rekomendasi kebijakan konkret yang dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Ambon dengan koordinasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Dalam Negeri. Rekomendasi ini dirancang untuk mengkatalisasi potensi ekonomi kreatif menjadi alat rekonsiliasi aktif yang membangun kohesi sosial di kalangan pemuda pascakonflik.
- Peta Jalan Ekonomi Kreatif Inklusif Pascakonflik: Pemerintah daerah perlu menyusun roadmap kebijakan dengan alokasi anggaran khusus untuk hibah kolaboratif yang mensyaratkan keterlibatan pemuda dari kelompok berbeda. Roadmap ini harus mencakup struktur program, insentif finansial, dan mekanisme monitoring berbasis indikator kohesi sosial, tidak semata ekonomi.
- Pendirian Pusat Inkubasi dan Ruang Kolaborasi Netral: Membangun atau mengalihfungsikan fasilitas fisik menjadi pusat inkubasi bisnis dan kreasi seni yang secara eksplisit berfungsi sebagai ruang bertemu dan berkarya bersama. Lokasi harus strategis dan dipersepsikan sebagai wilayah netral, dengan program yang difasilitasi oleh mentor lintas latar belakang.
- Program 'Superordinate Goal' Berbasis Proyek Kreatif: Meluncurkan program kompetisi atau festival tahunan (misalnya Festival Kuliner Ambon, Kompetisi Musik Kolaboratif, atau Proyek Konten Digital Bersama) yang menetapkan tujuan kolektif untuk dicapai oleh tim campuran. Tujuan bersama ini dirancang untuk mengalihkan dinamika kelompok dari identitas lama menuju pencapaian kreatif dan ekonomi bersama.
Implementasi ketiga rekomendasi tersebut memerlukan komitmen politik berkelanjutan dan pendekatan multi-pihak. Pemerintah Kota Ambon disarankan untuk membentuk satuan tugas khusus yang melibatkan perwakilan pemuda, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil dalam perencanaan dan evaluasi. Intervensi kebijakan yang berbasis pada ekonomi kreatif bukan sekadar program ekonomi, melainkan investasi strategis dalam rekayasa sosial untuk memperkuat fondasi perdamaian dan stabilitas Kota Ambon di masa depan.