Konflik antarpemuda di Jempong Baru, Mataram, yang dipicu kesalahpahaman, berhasil diselesaikan melalui mediasi berbasis masyarakat yang difasilitasi Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Akar masalah konflik horizontal di kalangan pemuda seringkali terletak pada persaingan status, identitas kelompok, atau insiden-insiden kecil yang dipersepsikan sebagai penghinaan. Dinamika menunjukkan pola khas dimana kumpulan massa di tempat-tempat publik (seperti depan sekolah dan lapangan bola) dengan membawa senjata tajam menjadi indikator eskalasi yang mengancam stabilitas lingkungan. Keberhasilan mediasi ini menawarkan model solutif yang efektif dengan beberapa elemen kunci: pelibatan tokoh masyarakat dan keluarga sebagai pihak yang memiliki otoritas moral, penggunaan pendekatan kekeluargaan dalam forum tertutup, serta komitmen tertulis untuk tidak mengulangi kesalahan. Peran Bhabinkamtibmas dan Babinsa sebagai jembatan antara aparat dengan masyarakat terbukti krusial dalam melakukan pendekatan persuasif sebelum konflik meluas. Rekomendasi kebijakan meliputi: pertama, replikasi model mediasi berbasis Bhabinkamtibmas-Babinsa dengan pelatihan spesifik konflik generasi muda. Kedua, pengembangan program pascamediasi berupa kegiatan bersama antar kelompok pemuda yang sebelumnya berkonflik, seperti kegiatan olahraga atau sosial. Ketiga, pemberdayaan forum pemuda tingkat lingkungan sebagai saluran komunikasi dan aspirasi yang positif. Keempat, integrasi pendidikan resolusi konflik dalam kurikulum ekstrakurikuler sekolah menengah untuk membangun kapasitas generasi muda dalam menyelesaikan perselisihan secara damai.