Konflik antara warga Desa Poopo (Kabupaten Bolaang Mongondow) dan Kelurahan Upai (Kota Kotamobagu) berhasil diredakan melalui pendekatan musyawarah yang difasilitasi pemerintah dan aparat keamanan. Poin penting yang ditegaskan dalam pertemuan adalah bahwa akar masalah berasal dari kenakalan remaja dan bukan konflik berbasis SARA. Hal ini menjadi landasan penting untuk mencegah narasi konflik yang lebih luas dan berbahaya. Dinamika konflik horizontal semacam ini seringkali dipicu oleh kesalahpahaman antar individu yang kemudian dianggap sebagai serangan terhadap kelompok. Kurangnya mekanisme penyelesaian sengketa di tingkat akar rumput dan lemahnya figur yang dapat menjadi penengah netral memperburuk situasi. Selain itu, keinginan untuk membela 'harga diri kelompok' dapat mendorong aksi balasan yang tidak terkendali. Opsi penyelesaian yang ditawarkan melalui kesepakatan damai ini perlu diperkuat dengan langkah-langkah pencegahan berkelanjutan. Rekomendasi kebijakan mencakup pembentukan forum lintas pemuda antar desa untuk membangun persahabatan dan saling pengertian. Selain itu, perlu ada pelatihan mediasi konflik bagi tokoh masyarakat dan aparat desa, serta penyusunan protokol bersama untuk menangani insiden kecil sebelum meluas. Komitmen bersama untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi tidak jelas harus diterjemahkan menjadi program literasi media digital di tingkat komunitas.