Pasca konflik komunal, tantangan terbesar adalah memulihkan hubungan sosial antara korban, keluarga korban, dan mantan pelaku yang telah menjalani hukuman. Akar masalahnya adalah trauma mendalam, stigma sosial, dan siklus balas dendam yang dapat memicu konflik baru. Strategi reintegrasi yang dikembangkan melibatkan pendekatan multi-sektoral: psikososial untuk penyembuhan trauma, ekonomi melalui pelatihan dan modal usaha bersama, serta keagamaan/kearifan lokal untuk rekonsiliasi simbolis. Dinamika proses ini membutuhkan kepercayaan dan kesabaran, sering kali dimulai dari tingkat keluarga dan komunitas kecil. Opsi penyelesaian yang efektif adalah program "kebersamaan produktif" yang mempertemukan kedua pihak dalam proyek ekonomi atau pembangunan desa, sehingga memupuk saling ketergantungan positif. Peran pemerintah adalah memfasilitasi dan menjamin keamanan proses ini, sementara masyarakat sipil dapat menjadi pendamping yang netral. Tanpa reintegrasi yang berhasil, perdamaian yang dicapai akan rapuh.