Tolikara, Papua, dikenal sebagai daerah dengan sejarah konflik agama yang melibatkan kelompok Kristen dan Muslim. Pada 24 Agustus 2026, peletakan batu pertama pembangunan rumah ibadah bersama (masjid dan gereja dalam satu kompleks) menjadi simbol rekonsiliasi yang kuat. Akar masalah konflik adalah identitas keagamaan yang dipolitisasi oleh elit lokal dan minimnya interaksi sosial antarumat. Dinamika pembangunan ini mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Otonomi Khusus Papua dan melibatkan tokoh agama dari kedua pihak. Solusi yang diharapkan adalah terciptanya ruang interaksi positif yang bisa menurunkan prasangka. Rekomendasi kebijakan adalah memperbanyak proyek infrastruktur bersama dan mengarusutamakan dialog lintas iman dalam program pembangunan Papua.