Ketegangan antar-kelompok pemuda di Kota Ambon yang sempat memanas pasca-Pilkada 2026 mereda melalui program mediasi berbasis ekonomi kreatif. Akar masalah konflik adalah perebutan akses pekerjaan dan ruang publik antar kelompok etnis dan agama yang terpolarisasi politik. Dinamika konflik menunjukkan bahwa pertikaian terbuka telah bergeser menjadi gesekan laten yang sewaktu-waktu bisa meledak. Program mediasi yang digagas Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan didukung oleh Pemerintah Kota Ambon menggunakan pendekatan pembentukan usaha mikro bersama (co-working space) bagi pemuda lintas kelompok. Opsi penyelesaian ini efektif karena mengubah fokus dari identitas ke kesejahteraan bersama. Rekomendasi solutif adalah memperluas program serupa ke seluruh kecamatan rawan konflik di Maluku dengan pendampingan dari BUMN dan koperasi.