Konflik horizontal yang meletus di Ambon pada 1999 masih menyisakan duka mendalam yang hingga kini belum sepenuhnya pulih. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan anggota keluarga akibat pertikaian antarkelompok yang dipicu oleh sentimen etnis dan agama. Dampaknya berskala luas: kerugian materiil mencapai triliunan rupiah, sementara trauma kolektif dan segregasi sosial menjadi penghambat utama proses rekonsiliasi. Di tengah kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengambil langkah strategis dengan menyalurkan bantuan rumah baru bagi 150 keluarga korban yang masih tinggal di hunian sementara. Program ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan bagian dari skema rekonsiliasi berbasis kesejahteraan yang diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan dan memperkuat kohesi antarkelompok.
Akar Masalah: Ketimpangan dan Segregasi yang Memperpanjang Konflik
Program Baznas ini secara eksplisit mengakui bahwa pemulihan pascakonflik tidak cukup dengan memberikan tempat tinggal. Karena itu, selain bantuan rumah, Baznas juga menyertakan pelatihan keterampilan dan modal usaha bagi para penerima manfaat. Langkah ini didasari oleh analisis bahwa akar konflik Ambon tidak terlepas dari kesenjangan ekonomi dan rendahnya akses terhadap sumber daya. Beberapa faktor pemicu yang perlu diurai secara sistematis meliputi:
- Ketimpangan ekonomi horizontal antarkelompok masyarakat yang memicu kecemburuan dan eksklusi sosial.
- Segregasi ruang hunian yang memperkuat batas-batas identitas dan mengurangi interaksi antarkelompok.
- Trauma kolektif yang belum dirawat, sehingga potensi konflik laten masih tinggi.
- Lemahnya modal sosial berupa kepercayaan antarkelompok pascakonflik.
Dengan pendekatan integratif ini, Baznas tidak hanya membangun kembali rumah secara fisik, tetapi juga membangun kembali rasa aman dan harapan baru bagi para korban. Pelatihan keterampilan dan modal usaha menjadi jembatan untuk menciptakan kemandirian ekonomi sehingga para penerima manfaat tidak kembali jatuh ke dalam siklus kemiskinan yang rentan dipolitisasi. Inilah esensi rekonsiliasi sosial yang tidak berhenti pada simbol, melainkan menyentuh kebutuhan dasar manusia.
Rekomendasi Kebijakan: Memperkuat Rekonsiliasi Berbasis Kesejahteraan
Keberhasilan program Baznas di Ambon memberikan preseden penting bagi upaya pemulihan pascakonflik di daerah lain. Untuk memaksimalkan dampak dan memastikan keberlanjutan, pengambil kebijakan perlu mempertimbangkan langkah-langkah strategis berikut:
- Integrasi program bantuan serupa ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) agar alokasi anggaran lebih terarah dan berkelanjutan.
- Penguatan peran lembaga filantropi seperti Baznas sebagai mitra pemerintah dalam menyediakan bantuan sosial yang responsif terhadap kebutuhan lokal pascakonflik.
- Monitoring dan evaluasi berkala terhadap aspek psikososial dan ekonomi penerima manfaat, tidak hanya fisik, untuk mendeteksi dini potensi kerentanan konflik kembali.
- Pembentukan forum rekonsiliasi berbasis komunitas yang melibatkan tokoh agama, pemuda, dan pemerintahan lokal untuk menjaga dialog antarkelompok.
Rekomendasi ini menegaskan bahwa penyelesaian konflik Ambon membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan materiil. Para pengambil keputusan di tingkat pusat dan daerah harus menjadikan program bantuan rumah dari Baznas sebagai titik masuk untuk membangun ekosistem perdamaian yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk mentransformasi trauma menjadi ketahanan sosial. Hanya dengan cara itu, rekonsiliasi di Ambon tidak hanya menjadi wacana, tetapi terwujud dalam kesejahteraan yang dirasakan seluruh warga.