Konflik horizontal bernuansa SARA yang melanda Poso pada awal tahun 2000-an meninggalkan luka mendalam, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikososial. Kekerasan terbuka memang telah mereda, namun transmisi prasangka dan memori kolektif negatif antarkelompok ke generasi muda yang tidak mengalami langsung konflik menciptakan kerentanan baru. Akar persoalan ini terletak pada politisasi identitas keagamaan dan etnis yang dapat dipicu kembali, mengancam stabilitas sosial jangka panjang. Skala dampaknya mencakup kerenggangan hubungan antar komunitas, penguatan segregasi sosial, dan risiko pengulangan siklus kekerasan jika tidak ditangani secara preventif. Inisiatif 'Sekolah Perdamaian' yang digagas oleh koalisi LSM dan tokoh lintas agama hadir sebagai respons strategis untuk memutus rantai transmisi tersebut melalui pendidikan alternatif yang membangun ketahanan sosial dari dalam. Pencegahan berbasis generasi muda ini menjadi kunci untuk mengurai dampak jangka panjang di Poso.

Membedah Akar Masalah: Dari Trauma ke Transmisi Prasangka

Analisis terhadap dinamika pasca-konflik di Poso menunjukkan bahwa akar masalah tidak hanya terletak pada trauma masa lalu, tetapi juga pada kegagalan intervensi struktural untuk membangun dialog antarkelompok yang berkelanjutan. Proses transmisi prasangka ini diperkuat oleh segregasi sosial yang masih terlihat dalam sistem pendidikan formal, interaksi sehari-hari, dan politik lokal. Beberapa faktor pemicu yang meningkatkan kerentanan ini meliputi:

  • Pendidikan segregatif: Sekolah formal dan madrasah yang berjalan terpisah tanpa ruang interaksi lintas komunitas, memperkuat batas identitas.
  • Politisasi identitas: Kecenderungan aktor politik lokal menginstrumentalisasi sentimen keagamaan dan etnis demi keuntungan elektoral.
  • Media sosial sebagai arena polarisasi: Penyebaran narasi kebencian dan hoaks tanpa literasi yang memadai di kalangan generasi muda.
  • Ketiadaan tokoh pemersatu: Minimnya figur publik yang menjadi jembatan antarkelompok dalam rekonstruksi sosial.

Tanpa intervensi yang terfokus, siklus prasangka ini dapat terus mengakar dan menghambat upaya rekonsiliasi. Oleh karena itu, pendekatan yang menargetkan generasi muda sebagai agen perubahan menjadi sangat strategis untuk pencegahan konflik berulang di Poso.

Rekomendasi Kebijakan: Memperkuat Sekolah Perdamaian sebagai Strategi Pencegahan Berbasis Generasi Muda

Inisiatif 'Sekolah Perdamaian' menawarkan solusi preventif yang terstruktur melalui tiga pilar strategis. Pertama, integrasi modul pendidikan perdamaian, kewarganegaraan inklusif, dan resolusi konflik ke dalam kurikulum ekstrakurikuler di sekolah formal dan madrasah. Guru dari berbagai latar belakang difasilitasi untuk menciptakan ekosistem pendidikan inklusif. Kedua, penciptaan ruang interaksi positif terstruktur bagi pelajar lintas latar belakang melalui kegiatan seni, olahraga, dan kewirausahaan sosial bersama. Inisiatif ini dirancang untuk membangun friendship network yang melampaui sekat identitas, memperkuat modal sosial. Ketiga, pelatihan kader muda sebagai 'duta perdamaian' yang menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing. Para kader dibekali kemampuan mendeteksi dan menanggapi narasi kebencian di media sosial maupun lingkungan sekitar, sekaligus menjadi role model toleransi. Untuk memastikan keberlanjutan inisiatif ini, diperlukan rekomendasi kebijakan konkret bagi pengambil keputusan di tingkat daerah dan pusat: Pertama, perkuat koordinasi antara Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, dan Pemerintah Daerah dalam mengintegrasikan modul sekolah perdamaian ke dalam kurikulum formal. Kedua, alokasikan anggaran khusus untuk pelatihan guru lintas iman dan pengembangan ruang interaksi terstruktur. Ketiga, bentuk tim pemantau independen yang mengevaluasi dampak inisiatif terhadap penurunan prasangka dan peningkatan kohesi sosial di kalangan generasi muda. Keempat, dorong partisipasi tokoh agama dan masyarakat sipil dalam merancang kebijakan pencegahan konflik berbasis pendidikan. Poso dapat menjadi laboratorium model pencegahan konflik lintas sektor yang integratif.