Sebuah forum rekonsiliasi antara eks anggota kelompok bersenjata dan masyarakat sipil digelar di Nabire, Papua, sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian dan reintegrasi sosial. Forum ini menjadi ruang dialog untuk mengungkapkan pengalaman, meminta maaf, dan menyusun komitmen bersama untuk tidak mengulangi kekerasan. Dinamika konflik di Papua memiliki dimensi vertikal dan horizontal yang saling terkait, dimana ketegangan politik seringkali bermuara pada kekerasan antar kelompok masyarakat. Akar masalah konflik horizontal mencakup trauma kolektif, stigma terhadap kelompok tertentu, dan siklus balas dendam yang menghambat pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi. Forum rekonsiliasi semacam ini merupakan langkah penting namun harus menjadi bagian dari proses yang lebih luas dan berkelanjutan. Pendekatan solutif memerlukan: (1) Memastikan keamanan dan kerahasiaan bagi para peserta yang ingin bercerita, (2) Dilanjutkan dengan program reintegrasi konkret bagi eks kombatan, seperti pelatihan keterampilan dan bantuan usaha, dengan melibatkan keluarga mereka, (3) Membangun mekanisme pengaduan dan penyelesaian keluhan warga yang terstruktur namun lokal, untuk mencegah konflik baru, dan (4) Mendokumentasikan dan menyebarluaskan narasi-narasi perdamaian yang lahir dari forum ini sebagai kontra terhadap narasi permusuhan. Keberhasilan upaya mikro ini dapat menjadi model untuk membangun kepercayaan di tingkat akar rumput, yang merupakan fondasi bagi perdamaian yang lebih luas.