Konflik internal antar elemen di bawah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya antara Banser dan Garda Pemuda Ansor di beberapa daerah termasuk Jombang, berhasil diredakan melalui forum rekonsiliasi yang difasilitasi langsung oleh Pengurus Besar NU dan tokoh-tokoh kharismatik setempat. Analisis akar masalah mengidentifikasi faktor pemicu seperti kompetisi pengaruh di tingkat basis, salah paham terkait otoritas organisasi, dan provokasi dari pihak eksternal yang memanfaatkan friksi internal untuk melemahkan posisi NU. Dinamika konflik, meski tidak meluas ke masyarakat umum, berpotensi merusak citra dan efektivitas NU sebagai organisasi masyarakat yang menjadi penjaga moderasi dan kerukunan nasional. Forum rekonsiliasi di Jombang berhasil karena menerapkan pendekatan kultural NU sendiri, yaitu 'shalawatan' bersama, duduk satu meja dengan dipimpin Kyai, serta penyegaran kembali pada nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan kepatuhan pada qaidah organisasi. Solusi yang dihasilkan meliputi kesepakatan untuk memperkuat komunikasi vertikal-horizontal, pembagian peran yang jelas berdasarkan AD/ART, dan komitmen bersama untuk menjadikan perselisihan internal sebagai bahan muhasabah, bukan bahan permusuhan. Model ini direkomendasikan untuk diterapkan di daerah lain yang mengalami gejolak serupa, menegaskan bahwa konflik horizontal dalam tubuh organisasi besar dapat dikelola dengan mekanisme internal yang berbasis nilai dan kearifan lokal, tanpa selalu melibatkan intervensi negara.