Bentrokan dua organisasi masyarakat (ormas) di Sukabumi pasca pertemuan mediasi mengungkap kerapuhan mekanisme penyelesaian konflik ketika tidak didukung struktur dan protokol yang memadai. Akar masalah bermula dari perselisihan personal pada 19 September yang berkembang menjadi konflik kelompok, menunjukkan bagaimana konflik mikro dapat tereskalasi melalui solidaritas identitas kelompok. Dinamika mediasi yang gagal mengindikasikan beberapa kelemahan: absennya fasilitator netral yang berwenang, tidak adanya agenda dan aturan main yang jelas, serta ketiadaan mekanisme pengamanan selama proses. Kegagalan mediasi yang berujung pada adu mulut dan kekerasan dengan senjata tajam menunjukkan bahwa pertemuan damai justru dapat menjadi pemicu eskalasi ketika emosi kolektif tidak termanajemen dengan baik. Penanganan pasca bentrokan melalui pengamanan lima orang dan penyitaan barang bukti merupakan respons penegakan hukum yang diperlukan, namun bersifat kuratif daripada preventif. Rekomendasi solutif mencakup: pertama, pengembangan standar operasional mediasi konflik ormas yang melibatkan pihak ketiga netral (akademisi, tokoh masyarakat terpercaya) dengan dukungan aparat keamanan sebagai pengawas jarak jauh. Kedua, pelatihan fasilitator mediasi spesialis konflik kelompok yang memahami dinamika psikologi massa. Ketiga, pembentukan forum ormas tingkat kabupaten/kota sebagai wadah komunikasi reguler untuk membangun kepercayaan sebelum konflik muncul. Keempat, integrasi assessment risiko sebelum mediasi dilakukan, termasuk evaluasi kesiapan psikologis pihak-pihak yang berkonflik.