Insiden bentrokan antarwarga yang diduga menyebabkan tewasnya seorang pemuda bernama Rafi (alias Pengege) di Jalan Al Markaz, Tallo, Makassar pada Minggu dini hari (27/9/2026), merupakan gejala berulang dari konflik horizontal yang akut di beberapa wilayah perkotaan. Pola 'perang kelompok' seperti ini seringkali berakar pada persaingan antar-geng pemuda, sengketa lahan, atau balas dendam yang telah berlangsung turun-temurun. Keterlibatan senjata api, seperti yang diduga dalam kasus ini, menunjukkan tingkat eskalasi kekerasan yang mengkhawatirkan dan kegagalan mekanisme kontrol sosial maupun penegakan hukum pre-emptif. Dinamika konflik semacam ini diperparah oleh faktor ekonomi dan sosial, seperti pengangguran di kalangan pemuda, yang membuat mereka rentan direkrut ke dalam kelompok-kelompok yang menawarkan perlindungan dan identitas. Pendekatan represif oleh kepolisian, meski diperlukan untuk menahan pelaku, seringkali hanya menyentuh permukaan tanpa menyelesaikan akar perseteruan di tingkat komunitas. Setelah insiden mereda, biasanya tidak ada proses mediasi yang sistematis antara keluarga dan kelompok yang bertikai, sehingga dendam tetap tersimpan dan siap meledak kembali pada pemicu berikutnya. Solusi berkelanjutan memerlukan intervensi yang terintegrasi antara penegakan hukum dan pemberdayaan masyarakat. Polrestabes Makassar perlu mengembangkan unit khusus 'Prevensi Konflik Komunitas' yang bekerja sama dengan tokoh masyarakat, ulama, dan LSM setempat untuk memetakan titik-titik rawan konflik dan melakukan pendekatan secara proaktif. Program 'Gencatan Senjata' dan mediasi restoratif harus segera dijalankan pasca-insiden, melibatkan pihak yang bertikai untuk berkomitmen mengakhiri siklus kekerasan. Secara paralel, Pemerintah Kota Makassar harus memperkuat program pelatihan vokasi dan kewirausahaan bagi pemuda di daerah rawan, menciptakan alternatif penghidupan yang sah sehingga daya tarik kelompok kekerasan dapat diminimalisir. Transformasi dari budaya 'solidaritas kelompok' yang eksklusif menjadi kerjasama kewilayahan yang inklusif adalah kunci stabilitas jangka panjang.