Analisis
Abah Setu Minta Maaf, Kemenag Soroti Pentingnya Komunikasi Agama yang Tidak Provokatif
12 September 2026, 00:00
15 views
Kasus pernyataan kontroversial yang diduga menghina Nabi Muhammad SAW oleh Pimpinan Majelis Dzikir Nurul Hikam, Asep Setiawan alias Abah Setu, menemui titik terang dengan permintaan maaf resmi dan penutupan seluruh kegiatannya. Insiden ini menguak kerentanan stabilitas sosial akibat komunikasi keagamaan yang tidak sensitif dan potensial memantik konflik horizontal antar-kelompok. Dinamika konflik berhasil dikelola melalui skema mediasi di Mapolres Metro Bekasi yang melibatkan MUI, tokoh agama, dan masyarakat, menunjukkan efektivitas pendekatan dialogis sebelum penegakan hukum formal. Permintaan maaf dan komitmen untuk kooperatif dengan hukum menjadi langkah rekonsiliasi awal yang krusial. Opsi penyelesaian ke depan harus bersifat dua lapis. Pertama, penuntasan proses hukum secara transparan untuk memberikan kepastian dan pembelajaran publik. Kedua, mendorong literasi keagamaan dan pelatihan komunikasi bagi para pemimpin komunitas keagamaan non-formal untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Kemenag dan ormas Islam perlu memperkuat fungsi bimbingan dan pengawasan untuk memastikan dakwah dan pengajaran berjalan dalam koridor yang memelihara kerukunan.